periyanti

Cara masuk BIOS segala jenis laptop dan komputer | BLOG MAHASISWA

Thursday, 11 December 2014

Cara masuk BIOS segala jenis laptop dan komputer

halo sahabat blog Mahasiswa, saya akan memberikan sedikit cara masuk BIOS segala jenis Laptop dan Komputer
Jika kita ingin menginstal sistem operasi dari cd atau dvd, kita harus menseting terlebih dahulu booting di bios ke setingan boot dari dvd. Di beberapa komputer atau laptop mungkin sudah terseting boot dari dvd. Namun jika belum kita perlu mensetingnya agar boot dari dvd. 
pada saat kita masuk ke bios, hal  yang paling sering dilakukan adalah dengan menekan F1F2DelEsc, F10 atau F12 pada keyboard tepat pada saat melakukan booting. (yaitu pada saat layar hitam pertama saat booting komputer).
tetapi tidak semua jenis Laptop maupun Komputer yang masuk ke Bios jika kita melakukan hal yang demikian

Berikut ini akan saya tuliskan secara lengkap Cara masuk BIOS segala jenis laptop dan komputer :

Asus : [ F2 ]
Lenovo : [ Fn + F2 ] ( 
HP : [ F1 ], atau  [ F2 ]
Toshiba : [ Esc ]
Compaq: [ F10 ] 
Dell:  [ CTRL + ALT + ENTER  ] ( pada beberapa tipe tekan Reset sebanyak 2x) 
Emachine: [ TAB ]
AMI / Award: [ Delete ]
Sony Vaio 320: [ F2 ]
Phoenix: [ CTRL + ALT + S ] atau [ CTRL + S ]
Tandon 386: [CTRL + ALT + Esc ]
AST Advantage: [ CTRL + ALT + Esc ]
Zenith: [ CTRL + ALT + Ins ]
Ollivetti PC PRO: [ CTRL+ALT+SHIFT+NumPad ]
IBM Think Pad: [ F1 ]
NEC: [ F2 ]
System yang menggunakan BIOS Phoenix:[ F1 ]
Tandon, Award: [ CTRL + ALT + Esc ]
Beberapa PC lain yang kurang terkenal: [ CTRL + ALT atau CTRL + Esc ]
PS/1 Value Point & 330: [ F1 ]
PS/2 tipe terbaru: [ CTRL + Ins  ](pada saat pointer berada pada kanan atas layar)
MicronF1, F2, DEL
Packard BellF1, F2, DEL
Tiger : Del
Gateway : F1, F2

GOD LUCK

0 comments:

Post a Comment

baca juga

 

Friday, November 7, 2014

perang bone





Perang Bone (1859)
Bottom of Form


Perjanjian Bongaya adalah sebuah perjanjian antara Sultan Hassanudin dari Kerajaan Makassar dan VOC pada tahun 1667.

Sebelum perjanjian bonganya ini dibuat, saat itu di makassar sedang ada perselisihan antara Arung Palakka, seorang pangeran dari Kerajaan Bone / Suku Bugis dengan Kerajaan Makassar / Gowa yang dipimpin oleh Sultan Hassanudin.

Dalam peperangan besar antara Sultan Hasanudin dengan Aru Palaka yang saat itu di bantu oleh tentara VOC yang dipimpin oleh Kapten Cornelis Speelman, ternyata Sultan Hasanudin mengalami kekalahan dan dipaksa untuk menandatangani sebuah perjanjian perdamaian di Desa Bongaya pada tahun 1667.

Dari situlah perjanjian ini disebut dengan Perjanjian Bongaya, karena diadakan di Desa Bongaya. Jelas isi dari perjanjian bongaya ini sangat merugikan bagi Sultan Hassanudin dan Rakya Makassar

Adapun Isi Perjanjian Bongaya adalah sebagai berikut:
1.      VOC menguasai monopoli perdagangan di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.
2. Makasar harus melepas seluruh daerah bawahannya, seperti Sopeng, Luwu, Wajo, dan Bone.
3. Aru Palaka dikukuhkan sebagai Raja Bone.
4. Makasar harus menyerahkan seluruh benteng-bentengnya.
5. Makasar harus membayar biaya perang dalam bentuk hasil bumi kepada VOC setiap tahun.


Perjanjian tersebut sangat merugikan rakyat Indonesia, terlebih di Makasar dan politik adu domba Belanda terhadap Sultan Hasanudin dan Aru Palaka telah menghancurkan persatuan rakyat di Makasar.

Dari sini kita bisa memetik pelajaran, sebagai sesorang pemimpin kita harus mempunyai visi yang luas kedepan dan tidak mudah di pengaruhi oleh orang asing untuk berperang / berselisih dengan saudara sendiri.
Perjanjian Bongaya ini adalah sebuah saksi bisu dimana kita di adu domba oleh bangsa asing.



sejarah perang bone


Pada tanggal 13 November 1858, GubJend. mengundang komandan angkatan darat dan laut untuk menyusun rencana ekspedisi ke sana yang akhirnya dipimpin oleh MayJend. ECC. Steinmetz; jabatan komisaris pemerintahan dilimpahkan kepada PJB. de Perez, wakil ketua Dewan Hindia-Belanda. Pada tanggal 12 Januari 1859, panglima tertinggi berlayar ke sana menaiki kapal Princes Amelia selama seminggu dan mengirim ultimatum kepada sultanah, di mana pernyataan pemerintah dijabarkan dan penyelesaikan diperlukan. Ketika dalam waktu 3 x 24 jam setelah pengiriman dokumen tersebut tak ada balasan, Belanda mengumumkan perang terhadap Bone. Pada tanggal 12 Februari pasukan mendarat, dan kemduian membentuk 3 barisan penyerbu dan menaklukkan kampung Lonrae, Bola-Telu-Telang dan Bajoe.
Selanjutnya terjadi serangkaian ekspedisi pengintaian dan penyebuan dan pada tanggal 18 Februari serangan ditujukan ke ibukota Bone namun gerakan ini terpecah di tengah jalan karena daerah itu tak dapat ditembus. Steinmetz terkena tembakan di lengan dan komando harus dialihkan ke tangan kolonel infanteri Jacobus Antony Waleson, sementara LetKol. Kellerman diangkat sebagai wakil komandan. Dengan berbagai kesulitan itu, pasukan berjalan ke kampung Lona; berkali-kali serangan ke ibukota tertunda akibat cuaca buruk namun akhirnya serangan berlalu pada tanggal 28 Februari dan tiba di ibukota yang sudah dikosongkan oleh penduduknya. Pengintaian daerah itu dilakukan, namun tak menemukan musuh dan pasukan kembali ke Bajoe, dan di sini didirikan pertahanan tetap.
Sekarang, bermacam penyakit turut membuat jumlah pasukan Belanda berkurang: pada tanggal 6 Maret ada 161 prajurit yang sakit dan seminggu kemudian jumlah ini membengkak jadi 210; komisaris pemerintahan sipil terserang stroke dan akibatnya meninggal pada tanggal 17 Maret (ia digantikan oleh Gubernur Makassar, Schaap); pada tanggal 29 Maret keadaan begitu gawat karena penyakit sehingga ekspedisi mulai dipertimbangkan untuk dihentikan. Penyakit kolera juga mulai menyerang prajurit; pada tanggal 4 April, benteng dalam keadaan bertahan, di mana pendudukan harus ditinggalkan; di saat bersamaan, angkatan laut harus memblokade pantai. Komandan pasukan menyerukan panglima tertinggi Waleson melalui surat untuk tetap di Bone dan sekarang memanggil dewan perang bersama, yang bersepakat untuk kembali ke Batavia (kini Jakarta) karena keadaan kesehatan yang buruk. Secara keseluruhan, ekspedisi ini gagal karena tidak ada keputusan politik apapun dan para pejuang Bone masih belum terkalahkan. Ekspedisi berikutnya perlu disepakati atas kuasa gubernemen di Bone.




Serbuan kavaleri ke Bone.
Perang Bone (1859) adalah ekspedisi balasan yang dilancarkan oleh KNIL atas Kesultanan Bone di Sulawesi pada tahun 1859.

Latar belakang
Belanda pernah melancarkan ekspedisi ke Bone pada tahun 1824 dan 1825, dan pada tahun 1838, perjanjian Bungaya diperbaharui. Pada tahun-tahun setelahnya, kerenggangan mulai bertambah sementara hubungan perdagangan antara Makassar-Singapura mulai berkembang. Di pantai barat Sulawesi, penduduk Bugis yang tinggal di sana mulai membangkang meskipun sudah berulang kali Gubernur Sulawesi dan Taklukannya memprotes; GubJend. Jan Jacob Rochussen mengunjungi Bone pada tahun 1849 namun tidak berhasil mengakhiri ketegangan yang sedang terjadi. Atas hal ini, ia menulis dalam sebuah laporan bahwa perang dengan Bone akan dikumandangkan sebentar lagi karena orang Bone harus menisbatkan politik damai dari pemerintah atas kelemahan itu dan menunjukkan keinginan menguasai suatu tempat di Teluk Bone, agar negeri itu tetap mudah dikendalikan.
Dalam masa-masa setelahnya, wacana melancarkan ekspedisi ke Bone muncul lebih dari sekali namun alasan politis dari berbagai kalangan selalu membuat realisasinya oleh pemerintah gagal. Gagasan ini juga diketahui oleh Sultan Bone, yang setelah itu memperbaharui hubungan lama dengan Kesultanan Soppeng dan Wajo (disebut sebagai Aliansi Tellumpoccoe) dalam masalah serangan gabungan melawan angkatan perang Belanda. Ketika ekspedisi tidak diadakan, orang Bone mengartikannya sebagai kelemahan dan ketakutan. Ekspedisi juga direncanakan oleh GubJend. Charles Ferdinand Pahud pada tahun 1857 namun niat itu tak terlaksana. Di saat yang sama, Sultan Aru Pugi mangkat dan digantikan oleh jandanya Besse Kajuara, yang dalam sebuah surat pendek terhadap pemerintah diketahui bahwa di sana ada upaya pemulihan hubungan kembali dan berharap bahwa kematian sultan yang bermusuhan akan menjadi awal perubahan ke arah yang lebih baik. Di akhir tahun 1857, gubernur memberitahukan bahwa Sultanah Bone memerintahkan pengibaran bendera Belanda terbalik di seluruh kapal dagang; selanjutnya para penguasa membangkang terhadap pemerintah dan di utara Distrik Pemerintahan Maros, para serdadu pribumi yang ditempatkan di gardu dekat Camba didorong untuk desersi.



No comments:

Post a Comment